Alasan Ini yang Membuat Ustad Solmed Tak Lapor Polisi


Jakarta Ustad Solmed aliash Soleh Mahmud mendapat perlakuan yang tak mengenakan. Akibat datang terlambat ke lokasi undangan pengajian ia nyaris dikeroyok massa. Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Karang Bolong, Anyer, Banten, 29 April 2016 lalu. Namun, ia tak melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

"Dari awal kejadian saya sudah memaafkan. Kalaupun mereka (panitia) mau minta maaf, 24 jam rumah saya terbuka. Kalau pun tidak, saya juga tidak menuntut apa-apa," ucap ustad Solmed di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (11/5/2016).

Padahal, sebagai warga negara yang memiliki hak perlindungan dari ancaman, suami April Jasmine itu punya hak untuk melaporkan peristiwa yang mengancam nyawanya ke polisi. Terlebih pihak panitia penyelenggara acara tersebut tak meminta maaf kepada dirinya.
Sementara itu, di mata kuasa hukum Ustad Solmed, Hendra Heriansyah, kejadian yang dialami kliennya dapat mengancam keselamatan ustaz Solmed dan rombongannya. Ia menilai kejadian itu peristiwa serius. Namun, karena kelembutan hati Ustad Solmed, ia tak melaporkan peristiwa itu ke polisi.
"Secara konteks hukum, saat warga negara dapat kekerasan, ini merupakan peristiwa serius. Terlebih ada seruan dari provokator yang mengancam akan membunuh. Itu bisa membuat massa yang kumpul melakukan tindakan brutal. Ini bukan peristiwa biasa, ini kejahatan," tambahnya.
Merujuk keterangan Ustad Solmed, dalam perjalanannya menuju lokasi acara, pihak panitialah yang seolah mengondisikan dirinya untuk datang terlambat. Panitia menginformasikan tiga lokasi yang berbeda sebelum akhirnya Ustad Solmed sampai ke tujuan yang tidak sesuai dengan informasi awal dari pihak panitia.
sumber : bintang.com

KISAH PENUH INSPIRASI.. Ibnu Hajar Si Anak Batu Yang Menjadi Ulama Besar |MOHON BAGIKAN|

Kisah Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau adalah seorang anak yatim, Ayahnya meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika beliau masih balita. Di bawah asuhan kakak kandungnya, beliau tumbuh menjadi remaja yang rajin, pekerja keras dan sangat berhati-hati dalam menjalani kehidupannya serta memiliki kemandirian yang tinggi. Beliau dilahirkan pada tanggal 22 sya’ban tahun 773 Hijriyah di pinggiran sungai Nil di Mesir.
Nama asli beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun ia lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.
Suatu ketika, saat beliau masih belajar disebuah madrasah, ia terkenal sebagai murid yang rajin, namun ia juga dikenal sebagai murid yang bodoh, selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah yang membuatnya patah semangat dan frustasi.
Beliaupun memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar.
Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh lalu beliau kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya dan menceritakan pristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar dijiwa beliau, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid disekolah itu.
Sejak saat itu perubahan pun terjadi dalam diri Ibnu Hajar. Beliau manjadi murid yang tercerdas dan malampaui teman-temannya yang telah manjadi para Ulama besar dan ia pun tumbuh menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karangan dalam kitab-kitab yang terkenal dijaman kita sekarang ini. Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.
Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).
Catatan: “ Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu diatas bisa menjadi motivasi bagi kita semua, bahwa sekeras apapun itu dan sesusah apapun itu jika kita betul-betul ikhlas dan tekun serta continue dalam belajar niscaya kita akan menuai kesuksesan. Jangan pernah menyerah atau putus asa, karena kegagalan itu hal yang biasa, tapi jika Anda berhasil bangkit dari kegagalan, itu baru luar biasa.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai ia sendirilah yang mengubah keadaan mereka sendiri” ( QS. Ar Rad : 11 ).
Diambil dari beberapa sumber, dan semoga bermanfaat.
sumber : duniaislam.org

Photo Pemuda Aceh Menikahi Gadis Suriah

...

Ini Dia Tata Cara Nabi Muhammad S.A.W Berdagang, Wajib Tau Biar Rezeki lancar



Semasa Mudanya Rasul Allah ini Telah berkenalan dengan Bisnis dari Usia Dini, Dimulai dari menggembala Kambing. Lalu Bisnisnya ke-Level yang lebih tinggi, Pada waktu itu Beliau tetap berumur 12 Tahun dan Beliau di Ajak oleh pamannya Abu Thalib untuk berdagang di Negeri Syam. Disitulah Awalannya Nabi Muhammad SAW mengetahui Bisnis dengan cara serius, dan Menjadi Entrepreneur Sejati. Sampai beliau mendapat reputasi yang sangat baik bagi penduduk Negri tersebut. Reputasi-reputasinya merupakan sebagai Orang yang Terpercaya (Al-Amin) di dalam Perdagangannya maupun di Kehidupan sehariannya. Pada usia 17 Tahun Nabi Muhammad SAW telah di beri amanah penuh oleh pamannya untuk Berdagang dari dagangannya. Sampai usia 20 tahun beliau telah hampir menguasai Pusat Bisnis Global di Jamannya. Kalo kini ( Irak, Yordania, Bahrain, Suriah, dan Yaman).

Mau, tau Rahasia-rahasia Bisnis Nabi Muhammad SAW yang Canggih Itu. Sampai kini Tetap di Gunakan dengan Prinsip-prinsip Bisnis Modern di Dunia saat ini. Dan juga mengajarkan kami sebagai Umat Muslim untuk menjadi seorang Enterprenur Sejati dan Beradap Sebagai Makhluk Allah SWT. Dan menjauhkan Bisnis Kami hanya dari Keuntungan Semata (KAPITALISME).…

Ini Merupakan Rahasia-rahasia berbisnis Ala Nabi Muhammad SAW :

Cara Berpikir dan Ber etika di dalam Bisnisnya

1. Jujur di dalam Bisnisnya, Kejujuran merupakan syarat fundamental dalam berbisnis yang di lakukan oleh Rasul Allah Muhammad SAW. Beliau sempat melarang para pedagang untuk meletakkan barang Busuk/jelek di dalam dagangannya. dan beliau rutin memberikan barang sesuai dengan seadanya dan paling baik bagi Konsumen nya.
2. Berprinsip pada kualitas ilahi, Bisnis yang di lakukan tidak terlepas dari penglihatan Tuhan. Dan menyadarkan manusia sebagai makhluk Ilahiyah (berTuhan).
3. Prinsip keleluasaan Individu yang bertanggung Jawab, Bukan bisnis hasil dari Paksaan alias Riba. Yang menjerat keleluasaan Individu.
4. Bertanggung Jawab, Bertanggung Jawab moral terhadap Tuhan atas perilaku Bisnisnya maupun Orang lain/Partner Bisnisnya maupun Konsumen nya.
5. Keadilan dan Keseimbangan, Keadilan dan keseimbangan sosial, bukan hanya keuntungan semata namun Kemitraan/bantu menolong di dalam bisnisnya
6. Tidak hanya mengejar keuntungan, dan berorientasi untuk menolong orang lain,
7. Berniat baik di Bisnisnya, berniat baik merupakan Aset Paling berharga oleh pelaku Bisnis tidak hanya untuk menjadi paling baik tapi berguna bagi orang lain.
8. Berani mewujudkan Mimpi, rasulullah dari seorang penggembala Kambing, berniat untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi, menjadi pedagang, lalu Manager sampai beliau mewujudkan cita-citanya menjadi Owner (Pemilik perusahaan) dengan melamar Siti Khadijah. Beliau merupakan Entrepreneur Cerdas.
9. Branding/Menjaga nama baik, rasulullah rutin memakai tutorial ini sebagai Modal Utama, Track Record sebagai orang Terpercaya (Al Amin), Justru paling di cari dan siapapun ingin bekerja sama dengannya. Sifat inilah yang Kini Langka di Jaman ini,Tirulah… 

Cara Merintis Bisnis

1. Fokus dan Konsentrasi, rasulullah rutin Fokus terhadap bisnis yang beliau tekuni, Tidak mengerjakan bisnis yang satu ke satunya lagi sebelum beliau menyelesaikannya…
2. Memiliki Goal dan rencana yang jelas
3. Merintis Bisnis Dari NOL, kesuksesan beliau tidak datang dalam satu malam meskipun seorang rasulullah, namun wajib dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari seorang Karyawan/Sales sampai maka Owner. Dan semua tanpa ada praktek KKN.
4. Tidak Mudah Putus Asa, beliau Mengatakan : Janganlah kalian berdua putus asa dari rizki selagi kepalamu tetap bergerak. Sebab manusia dilahirkan ibunya dalam kondisi merah tidak memiliki baju, Kemudian Allah SWT memberikan rizki kepadanya (HR.Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya)
5. Berusaha Menjadi Trend Center
6. Inovatif, Semua barang yang di Jual Rasul rutin tidak sama dari kompetitor nya, dengan harga terjangkau namun Higth Qualiti
7. Memahami kondisi dan analisa Pasar
8. Performa merespon taktik Pesaingnya
9. Belajar menguasai pasar, Dikisahkan Ketika beliau di Mekkah para pedagang dari kaum Quraisy yang ingin menjatuhkan Bisnisnya, dengan menjatuhkan Harga dengan tidak Wajar. Namun beliau menerapkan Hukum Suply&Demand, beliau menyiasati dan bersabar. Sampai semua dagangan para Kompetitor nya habis semua. Rasul baru Menjual Dagangannya sebab Rasul Percaya kalau jumlah Permintaan (Demand) jauh lebih tinggi dari jumlah Penawaran (Supply) di Kota itu. Tidak lama kemudian Rakyat Kota tersebut membeli Barang Dagangan Rasul dengan Harga Normal, ketika rombongan Pedagang itu pulang Mekkah gempar. Semua pedagang Menyesal dampak banting harga kecuali Nabi Muhammad SAW yang untung besar. Itulah kejelian melihat, menganalisis, dan memahami Pasar. Sampai menguasai Pasar yang ada. :)
10. Sanggup Memanagement Organisasi dengan cara Efektif
11. Dapat menghapus Mental Blocking, Alias juga yang di sebut dengan Ketakutan yang Berlebihan dalam menghadapi kegagalan usaha. Rasul rutin dapat mengalahkan diri sendiri dari hal-hal Negatif (mujahadah).
12. Sanggup luar biasa dan meyakinkan pemilik Modal untuk ikut dan dalam bisnis yang dilaksanakannya

Cara Menjalankan Bisnisnya

1. Bekerja Sama (bersinergi), Beliau bersabda “Keberkahan sesungguhnya berada dalam Jamaah. Dan, tangan Allah sesungguhnya bersama Jamaah”
2. Kerja Pintar, Kreatif dan Visioner
3. Menerapkan kesepakatan Win-Win-Solution (Saling menguntungkan, dan tidak ada yang dirugikan)
4. Bekerja dengan Prioritas
5. Tidak melakukan Monopoli
6. Rutin berusaha dan Tawakal
7. Cocok Waktu
8. Berani ambil Resiko
9. Tidak menimbun barang dagangan (ihtikar), Rasul melarang Keras pelaku Bisnis dan menyimpan barang pada massa tertentu, hanya untuk keuntungan semata. Rasul bersabda bahwa pedagang yang mau menjual barang dagangannya dengan spontan bakal di beri kemudahan. Tapi penjual yang tidak jarang menimbun dagangannya bakal mendapat kesusahan (Dalam HR Ibnu Majah dan Thusiy).
10. Profesional di Bisnis yang Di kelolannya
11. Rutin Bersyukur di Segala Kondisi
12. Berusaha dengan Mandiri, Tekun dan Tawakal
13. Menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliaan dalam proses interaksi bisnis
14. Melakukan bisnis berdasarkan Cinta (Passion).
15. Tidak MenZhalimi (Merugikan Orang lain)
16. Rajin Bersedekah

Cara memasarkan Produk

1. Memasarkan Produk yang Halal dan Suci
2. Tidak melakukan Sumpah Palsu,
3. Tidak merpura-pura menawar dengan harga tinggi, Supaya orang lain tertarik
4. Melakukan timbangan dengan benar
5. Tidak menjelekkan bisnis Orang lain, Beliau bersabda ” Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dipasarkan oleh orang lain” (HR. Muttafaq ‘alaih)
6. Pintar beriklan/Promosi, Rasul hafal betul dimana ada Bazaar di sebuahtempat tertentu. Maka makin tidak sedikit orang mengetahui beliau dan barang dagangannya.
7. Transparansi (keterbukaan), Beliau bersabda “Tidak dibenarkan seorang Muslimin menjual satu-satu jualannya yang memiliki aib, sebelum dirinya membahas aibnya” (HR. Al-Quzuwaini)
8. Mengutamakan pelanggan (Customer Satisfaction)
9. Networking (Jejaring) di wilayah lain
10. Cakap dalam berkomunikasi dan bernegosiasi (tabligh)
11. Tidak mengambil Untung yang berlebihan
12. Mengutamakan penawar pertama
13. Menawar dengan harga yang di inginkan
14. Melakukan perniagaan sepagi mungkin, RasulAllah mendoakan orang-orang yang pagi-pagi dalam bekerja. “Ya Allah, berkahilah umatku dalam berpagi-paginya mereka” (HR.Shahr Al Ghamidi)
15. Menjaga Kepercayaan pelanggan
16. Mewujudkan Win-Win Solution
17. Barang Niaga wajib bermutu, Murah, Bermanfaat, Mutakhir dan Berkualitas
18. Kemudahan dalam faktor transaksi dan pelayanan
19. Menentukan Harga dengan jelas ketika akad (Deal)

Cara berhubungan dengan Karyawan

1. Share perhatian terhadap karyawan, Tidak memilih-milih karyawan Istimewa semua sama.
2. Bermitra Bisnis, Karyawan dan Majikan semacam hubungan kekeluargan yang kental. Bukan semacam Baginda dan Budak.
3. Memberi gaji yang Lumayan terhadap Karyawannya
4. Memberi gaji cocok Waktu terhadap Karyawannya, Sebelum keringat karyawan kering
5. Tidak memberatkan Karyawan dengan tugas diluar kemampuannya
6. Karyawan di Wajibkan kerja sungguh-sungguh dengan seluruh kekuatannya
7. Tidak jarang memberikan Bonus-bonus tambahan di luar gaji pokok

Contoh di Atas merupakan sebagian kecil dari sifat-sifat Suri tauladan Rasul Allah Muhammad SAW yang dapat kami Contoh dalam membangun Kerajaan Bisnis Kita, jauh lebih Sukses, beradap dan menolong terhadap sesamanya. 

sumber : http://cararasulullahsaw.blogspot.co.id

Terharu Bacanya ; Istri Itu Pendamping, Atau Pembantu

Renungan untuk para suami dan para istri. 
Sebuah percakapan seorang anak laki-laki dengan ibunya mengenai hakikat seorang istri dan seorang suami dalam rumah tangga.

Di Subuh yang dingin…ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.
“Ibu masak apa? Bisa ku bantu?”
“Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak” sahutnya.
“Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh…”
“Iya terus kenapa..?” Sahut Ibu.
“Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe”
“Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?”
Aku menatap Ibu dengan tak paham.
Lalu beliau melanjutkan, “Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri.” katanya sambil menyentil hidungku.
“Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?”
Aku masih tak paham juga.
“Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami.” kata Ibu.
“Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya”
Saya makin bingung Bu.
“Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah.”
Beliau berbalik menatap mataku.
“Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?” tanya Ibu.

“Iya tentu saja Bu..”
“Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami.”
Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku yang cerdas dan kebanggaanku ini.
“Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?”
“Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu.”
Aku hanya diam terpesona.
“Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri.”
“Iya Buu…”
Aku mulai paham,
“Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki berterimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri.”

Ibuku tersenyum.
“Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?”
“Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya. Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai Surga”
“MasyaAllah…. eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?”
“Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki beragama yang baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya.”
Subhanallah…
Semoga yang kita diberikan jodoh yang baik oleh Allah SWT, sehingga mampu membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah, serta kelak dimasukkan ke dalam surga yang terindah. Aamiin…
yang sudah membaca postingan ini mari beramal, beritahu Muslim lainnya, Sebarkan!!
sumber : islamjuara.com

Anak Pertama Berjenis Kelamin Perempuan Ternyata Lebih Berkah !!


Karena anak adalah hibah dari Allah, sementara manusia hanya bisa meminta. Sehingga yang lebih penting adalah berusaha mensyukuri kehadiran semua anaknya.

"Hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki."(QS. as-Syura: 49)

Dalam ayat ini, ketika Allah menceritakan nikmat anak yang Allah berikan kepada hamba-Nya, Allah awali dengan anak perempuan, baru anak lelaki.

Sebagian ulama memahami, urutan ini bukan tanpa makna. Artinya, bisa jadi mereka yang dikaruniai Allah anak perempuan sebagai anak pertama, itu merupakan tanda kebaikan untuknya.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya membawakan keterangan sahabat Watsilah bin al-Asqa',

"Bagian dari keberkahan wanita, ketika dia melahirkan anak pertamanya berjenis kelamin perempuan, sebelum anak laki-laki. Karena Allah berfirman, (yang artinya): "Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki". Dalam ayat ini Allah mulai dengan anak perempuan." (Tafsir al-Qurthubi, 16/48).

Hadisnya Dhaif

Terdapat riwayat yang marfu' dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa keberkahan wanita, ketika anak pertamanya perempuan. Namun semua riwayat marfu' ini statusnya dhaif.

Diantaranya, disebutkan asy-Syaukani dalam tafsirnya, riwayat yang dibawakan Ibnu Mardawaih dan Ibnu Asakir dari Watsilah bin Asqa' secara marfu',

"Bagian dari keberkahan wanita, anak pertamanya perempuan. Karena Allah berfirman (yang artinya), "Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki." (Fathul Qadir, 4/776)

Demikian pula diriwayatkan ad-Dailami dalam musnadnya dari Aisyah secara marfu',

"Bagian dari keberkahan wanita kepada suaminya, mahar yang murah dan anak pertama perempuan". (hadis ini di-dhaif-kan as-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah).

Terlepas dari status hadisnya yang bermasalah, anak adalah anugrah dari Allah. Sementara manusia tidak memiliki pilihan untuk menentukan jenis kelamin buah hatinya. Karena anak adalah hibah dari Allah, sementara manusia hanya bisa meminta. Sehingga yang lebih penting adalah berusaha mensyukuri kehadiran semua anaknya.

Para ulama menilai keberuntungan bagi yang memiliki anak perempuan, untuk membangun sikap optimis terhadap setiap anugrah yang Allah berikan. Agar jangan sampai muncul perasaan sial, seperti yang diyakini masyarakat jahiliyah.

Allah ceritakan karakter mereka dalam al-Qur'an,

"Apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?." (QS. an-Nahl: 58 – 59)

Cari Kesalahan-kesalahan Quran, Orang Hindu Ini Malah Masuk Islam

MUHAMMAD Ishaq, sebelumnya adalah seorang Girish KS Udupa, sebuah kasta Hindu tingkat tinggi, menceritakan kisahnya tentang mengapa ia masuk Islam. Berikut penuturannya.
Saya mulai membaca Alquran dengan maksud untuk menemukan kesalahan di dalamnya. Tapi luar biasa, saya malah mulai mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada dalam kepala saya. Itu seperti Al-Qur’an menjawab dan membersihkan semua keraguan saya.
Meskipun saya memutuskan untuk membaca setidaknya empat halaman setiap hari dan menyelesaikannya dengan cepat, tapi anehnya, saya hampir tidak bisa membaca lebih dari setengah halaman setiap harinya. Saya mulai mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan saya; mengapa saya di sini (di dunia ini), mengapa saya diciptakan, apa tujuan hidup, dan dengan karunia Allah SWT, saya semakin dekat dengan Al-Qur’an dan Pencipta saya.
Saya mendapatkan Quran dari seorang saudara saya. Kami mulai bertemu sangat sering untuk membahas tentang kopi atau jus. Suatu hari, ketika kami minum jus, ia meminta saya pertanyaan; jika ia meninggal sekarang, sebelum benar-benar minum jus, dia mungkin masuk surga karena ia adalah seorang Muslim karena ia mencoba untuk mengikuti perintah-perintah Allah.
Nah, apa yang akan saya lakukan jika saya meninggal sebelum saya menyelesaikan minum jus saya? Karena, tidak ada jaminan rentang hidup kita untuk satu perihal apapun. Ketika itu, saya sangat untuk sementara, sampai tidak bisa meminum jus saya. Saya merasa seolah-olah saya akan mati setiap saat.
Saya pulang ke rumah, dengan tulus berdoa kepada Allah SWT untuk pertama kalinya dalam hidup saya bahwa jika saya mati hari ini ampunilah dosa-dosa saya. Kemudian setelah itu saya tertidur.
Ketika saya bangun di pagi hari saya keesokan harinya, saya memutuskan untuk tidak membuang-buang waktu lagi, saya langsung menelefon saudara saya dan memberitahukannya bahwa saya ingin masuk Islam.
Saudara saya mengajak saya ke Islamic Center, dan di depan 2 orang, saya menyatakan syahadat dalam bahasa Arab dan bahasa InggriS. “La ilaha illallahu Muhammadur Rasulullah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Saya bersumpah demi Allah bahwa ketika saya mengucapkan Syahadat, saya merasakan sensasi yang luar biasa, seolah-olah, sebuah beban berat dalam dada saya baru saja; saya bernapas seolah-olah baru pertama kalinya bernapas dalam hidup saya.
Alhamdulillah, dengan memeluk Islam, perjalanan saya untuk menemukan agama yang benar berakhir dengan kebahagiaan dan kepuasan maksimal.
Alhamdulillah, Allah telah memberi saya hidup baru, yang bersih dan kesempatan untuk meraih Jannah, dan saya berdoa bahwa saya menjalani sisa hidup saya didedikasikan untuk menyebarkan pesan Islam dan mati sebagai Muslim. Aamiin.
Sumber: http://www.arabnews.com/islam-perspective/news/669716

Abu Bakar pun Memeluk Jasad Rasulullah



SUBUH dini hari tak seperti biasa, udara yang sejuk pun tak membangkitkan selera. Para sahabat tertegun sedih karena melihat mimbar itu masih kosong. Mimbar yang setiap hari digunakan Rasulullah, kali ini tak ditempati Nabi.
Mata teduh dan sapaan halus dari Rasulullah yang setiap kali bisa dinikmati oleh sahabat, pagi ini tiada. Senyum yang tiap kesempatan merekah, kali ini punah. Abu Bakar memahaminya, meski dengan berat hati, Abu Bakar pun maju dua atau tiga langkah menuju mimbar.
Ketika hendak mengangkat tangan untuk bertakbir, beberapa sahabat melihat Rasulullah yang menyibak tirai kamarnya. Hampir seluruh jama’ah yang hendak melakukan shalat Subuh pun berfikir bahwa Rasulullah yang akan memimpin shalat seperti hari-hari biasa. Abu Bakar segera mundur beberapa langkah masuk ke dalam shaf ma’mum.
Tapi, dugaan Abu Bakar dan sahabat salah. Dari dalam kamar, ternyata Rasulullah melambaikan tangan beberapa kali, beliau memberikan sebuah isyarat agar shalat diteruskan dengan Abu Bakar sebagai imam. Tak berselang lama, Rasulullah pun tersenyum, dan dengan gerakan yang lembut tirai jendela ditutupnya, Rasul menghilang di balik tirai. Para sahabat segera melaksanakan jama’ah shalat Subuh. Setelah usai, mereka berdzikir, berdo’a, dan sebagian bertanya-tanya “Sudahkah tiba waktunya?”
Jam demi jam terlewati, dan demam yang dialami Rasulullah semakin meninggi, Fatimah dan Aisyah tetap menemani beliau.
Rasulullah berbisik lirih, “Tak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini.” Demikian kalimat yang sempat dibisikkan pada Fatimah.
Dan tak berselang lama, manusia terbaik dan yang paling mulia menghembuskan nafas terakhirnya, Senin 12 Rabi’ul Awal 11 H, dengan usia 63 tahun lebih 4 hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat.
Kabar duka yang amat mendalam ini tersebar cepat. Keluarga dan para sahabat mengalami duka yang sangat hebat. Kehilangan manusia terbaik penegak syari’at. Umar yang mengetahui peristiwa ini langsung keluar menuju kerumunan orang. Ia menghunus pedangnya dan menancapkan pedang tersebut di tanah yang gersang. Lalu Umar berteriak dengan lantang, “Siapa yang telah mengatakan Rasulillah meninggal, maka akan aku potong tangan dan kakinya.”
Mendengar perkataan ini, para sahabat pun menunduk dan terdiam. Mata tajam Umar menyibak dan melihat sekelilingnya tanpa terpejam, dengan mengangkat jari telunjuk yang diarahkan ke langit, Umar melanjutkan perkataannya, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak meninggal. Beliau menemui Rabbnya seperti Musa bin Imran. Beliau akan kembali menemui kaumnya setelah dianggap meninggal dunia.”
Seakan-akan kematian Rasulullah tak bisa diterima oleh Umar karena rasa cinta yang begitu mendalam. Tak berselang lama, tampak debu yang mengepul dari arah bukit. Lalu terlihatlah seekor kuda yang dipacu dengan begitu cepat dan gesit, di atas punggung kuda itu tampak Abu Bakar dengan wajah memerah, sedih dan cemas yang tak tertahan.
Abu Bakar lantas berhenti di depan masjid dan langsung melompat turun. Ia langsung masuk ke ruangan dengan menerobos kerumunan para sahabat bagai singa yang hendak menerkam mangsa. Tanpa berkata sepatah katapun, ia langsung menemui putrinya, Aisyah. Lantas Aisyah menunjukkan jasad Rasulullah.
Abu Bakar melihat tubuh yang terbujur di pembaringan, di dekatinya dan dibukanya penutup yang berwarna hitam itu. Air mata tak tertahan dan segera dipeluk jazad Rasulullah dengan erat. Abu Bakar lalu memandang wajah Rasulullah, lantas ia berbisik lirih, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, Allah tak akan menghimpun pada dirimu dua kematian. Jika saja kematian ini telah ditetapkan pada dirimu, maka memang engkau sudah meninggal.”

Beberapa saat kemudian, dengan langkah kecilnya, Abu Bakar keluar dan mendapati Umar yang masih berbicara pada orang-orang di sekelilingnya. Abu Bakar pun berkata, “Wahai Umar, duduklah.”
Perkataan Abu Bakar tak digubris oleh Umar. Bahkan Umar semakin berdiri kokoh tak tergoyahkan. Pada akhirnya, Abu Bakar maju beberapa langkah dan berkata dengan nada yang lantang, “Wahai kaum muslimin, barangsiapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi jika kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tak pernah meninggal.”
Ia berhenti sejenak, melihat keadaan sekelilingnya, lalu ia membaca Surah Ali-Imran ayat ke-144, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kalian akan berpaling ke belakang (menjadi murtad)? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka ia tidak mendatangkan mudharat sedikit pun pada Allah, dan Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
Semua orang langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Apa yang dikatakan Abu Bakar telah menyadarkan mereka. Lantas Umar terjatuh, lututnya tertekuk di atas tanah dan tangannya menggapai pasir seakan hendak tersujud. Umar berkata, “Demi Allah, setelah mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, aku menjadi limbung hingga tak kuasa mengangkat kedua kakiku, aku tertunduk ke tanah saat mendengarnya. Kini, aku sudah tahu bahwa Rasulullah benar-benar telah meninggal.”
Setelah proses memandikan jenazah selesai, beberapa sahabat berbeda pendapat tentang di mana beliau dimakamkan. Lalu Abu Bakar yang telah dibai’at menjadi Khalifah segera berkata, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah seorang Nabi meninggal dunia, melainkan dia dimakamkan di tempat dia meninggal dunia’.”
Maka secepat kilat, Abu Thalhah segera menyingkirkan tempat tidur beliau dan menggali liang lahat seorang diri. [Abi Khamid Al Abdillah]
sumber : islampos.com